Posted by: sayapikhwah | March 8, 2010

KECANTIKAN LELAKI & KEGAGAHAN WANITA

Kecantikan Lelaki

Kecantikan seorang lelaki bukan kepada rupa
fizikal tetapi pada murni rohani. Lelaki yang cantik
adalah :

1. Lelaki yang mampu mengalirkan airmata untuk
ingatan
2. Lelaki yang sedia menerima segala teguran
3. Lelaki yang memberi madu setelah menerima
racun
4. Lelaki yang tenang dan lapang dada
5. Lelaki yang baik sangka
6. Lelaki yang tidak pernah putus asa

Kecantikan lelaki berdiri di atas kemuliaan hati.
Seluruh kecantikan yang ada pada Muhammad
adalah kecantikan yang sempurna seorang lelaki.

=================================

Kegagahan Wanita

Kegagahan seorang wanita bukan kepada pejal
otot badan, tetapi pada kekuatan perasaan.
Perempuan yang gagah adalah :-

1. Perempuan yang tahan menerima sebuah
kehilangan
2. Perempuan yang tidak takut pada kemiskinan
3. Perempuan yang tabah menanggung kerinduan
setelah ditinggalkan
4. Perempuan yang tidak meminta-minta agar
dipenuhi segala keinginan.

Kegagahan perempuan berdiri di atas teguh iman.
Seluruh kegagahan yang ada pada Khadijah
adalah kegagahan sempurna bagi seorang
perempuan.

” Tidak dihitung kaya orang yang banyak harta,tetapi kaya sebenar ialah kaya jiwa”

Advertisements
Posted by: sayapikhwah | January 26, 2010

Dimana Allah dalam kekuatanmu?


Pernah suatu ketika, seorang sahabat mendekati saya tika jiwa berkecamuk dengan cabaran-cabaran yang mendatang. Tampak jelas saya seolah-olah tidak mampu untuk berdiri teguh merentas hari-hari yang sarat dengan isu dan masalah. Sahabat itu, dengan galak matanya dan senyuman manisnya menyapaku dengan tenang. Ketenangan yang sudah agak asing bagi diri aku. Tidak banyak yang dilontarkan dari bibir sahabat itu. Namun, kata-katanya masih terngiang-ngiang di telinga, terpasak di minda dan mengakar di sanubari ini.

Saya masih ingat persoalan yang dilemparkan olehnya. Persoalan yang diajukannya membuatkan saya terpaku tanpa kata.

Ia bertanya, apakah kekuatan yang mendorong kamu untuk beramal dan menyampaikan risalah Allah?

DI MANA ALLAH DALAM KEKUATAN KAMU?

Pernah suatu ketika, seorang sahabat mendekati saya tika jiwa berkecamuk dengan cabaran-cabaran yang mendatang. Tampak jelas saya seolah-olah tidak mampu untuk berdiri teguh merentas hari-hari yang sarat dengan isu dan masalah. Sahabat itu, dengan galak matanya dan senyuman manisnya menyapaku dengan tenang. Ketenangan yang sudah agak asing bagi diri aku. Tidak banyak yang dilontarkan dari bibir sahabat itu. Namun, kata-katanya masih terngiang-ngiang di telinga, terpasak di minda dan mengakar di sanubari ini.

Saya masih ingat persoalan yang dilemparkan olehnya. Persoalan yang diajukannya membuatkan saya terpaku tanpa kata.

Ia bertanya, apakah kekuatan yang mendorong kamu untuk beramal dan menyampaikan risalah Allah?

Saya tersentak.

What kind of question is this? Where is he going with the question? Is this a trick question?

All kinds of  queries raced through my mind, but I was still mum with no answer.

“Faham ke tak soalannya?” dia bertanya lagi sambil mengukir senyuman.

Saya mengangguk, meskipun hati masih belum 100% pasti dengan pemahaman sendiri.

“Erm, rasanya, banyak juga punca-punca kekuatan saya. Saya sentiasa terdorong oleh sahabat-sahabat lain yang sama-sama beramal untuk Allah SWT. Ramai sahabat-sahabat yang sentiasa memberi teguran, peringatan dan mengajak meningkatkan amalan-amalan seharian. Kemudian, tarbiyyah yang saya lalui juga banyak membantu membina zatiyah dalam diri. Tarbiyyah itu memberi kesedaran yang besar tentang tanggungjawab sebenar seorang muslim.  Rasanya, fitrah manusia itu sendiri juga mainkan peranan. Kita sebagai manusia sememangnya diciptakan untuk memakmurkan bumi Allah berlandaskan hukum-hukum Allah, semestinya elemen fitrah juga menolak diri saya untuk melaksanakan tanggungjawab sebagai hambaNya.”

Itulah celoteh saya untuk meyakinkan sahabat itu.

Sekali lagi, dia tersenyum. Saya senyum kembali sambil memandang tepat ke matanya.

Dia pun bersuara, “Okay, so, you mentioned your friends, tarbiyyah and fitrah.” Saya mengangguk tanda setuju.

Dia menambah, “Di mana Allah dalam kekuatan kamu?”

Astaghfirullahalazim. Saya tertampar dengan persoalan itu. Tamparan itu masih terasa sehingga kini. Persoalan itu membuka mata dan minda saya yang masih cetek ketika itu.

Di mana Allah? Apa peranan Allah dalam kekuatan dan zatiyah diri saya? Mengapa saya tidak sebutkan Allah sebagai kekuatan saya, sedangkan Allah sepatutnya menjadi tunjang utama kekuatan seorang daie.

Sejujurnya, saya sungguh kecewa dengan diri sendiri. Saya sedar, akhlak manusia itu terpancar pada pertuturan dan perbuatannya yang paling spontan. I was disappointed with the fact that I did not spontaneously mention Allah as my core strength. I listed other factors like the constant reminders from my peers, the upbringing and knowledge gained through education and tarbiyyah, as well as the nature of humankind as Allah’s slave. But, I failed to mention Allah per se.

“Astaghfirullah. Ya Allah, ampunkanlah dosa hambamu ini, terimalah taubat aku seadanya.”

Sahabat saya mendekati saya, lalu duduk sebelah-menyebelah. He wisely said,

“Selayaknya, Allah perlu menjadi sebab utama kita berada di sini. Allah perlu menjadi kekuatan utama kita dalam menghadapi hari-hari sebagai pembawa risalahNya. Memang tak dinafikan, kawan-kawan kita sangat banyak membantu kita, mereka banyak mengingatkan kita tentang tanggungjawab dan amalan yang perlu dibuat. Sahabat-sahabat kita juga yang selalu ada bersama kita dalam keadaan susah dan senang. Peranan mereka besar dalam memastikan kita terus tsabat dalam menjalankan amanah Allah. Namun begitu, hakikatnya semua datang dari Allah SWT.”

“Kita sering lupa hakikat di sebalik yang terlihat oleh mata kasar. Kita nampak sahabat-sahabat kita bersama kita. Kita nampak mereka ketawa dan menangis bersama. Makan, masak, riadah dan bersiar-siar bersama-sama. Tapi kadang-kadang kita terlepas pandang bahawa di sebalik itu semua, Allah yang merancang segalanya. Mungkin kalau kita duduk sendirian, muhasabah di waktu malam, kita tidak lupa bahawa Allah adalah perancang utama yang mengizinkan segalanya berlaku. However, in the spur of the moment, when we are around other people, having fun or feeling sad, we tend to forget that fact. We usually see and acknowledge things that we can physically visualize, failing to acknowledge the main superior in our lives, which is Allah.”

Saya masih lagi rasa malu dengan jawapanku tadi. Malu pada diri sendiri, malu pada sahabatku itu dan paling penting, malu pada Allah. Seorang daie hendaknya, meletakkan Allah di puncak segala-galanya. Apabila saya merenung kembali peristiwa ini, banyak pengajaran boleh saya perolehi.

In my opinion, it all relates back to the initial intention that we had when we first told ourselves, “we want to be a better muslim, we want to spread Islam, we want to be a daie.” Why? What was the reason behind all that wants? Is it truthfully and honestly because of Allah, or was there another agenda lurking beneath that beautiful action? If we truly did it because of Allah, with He’s will, we won’t forget Allah throughout the course of our life as a Muslim. However, if we had other intentions, don’t fret. We still have time to repent and renew our intentions. Allah is Most Merciful and surely He loves His slaves who are constantly trying to improve and become better Muslims.

Jika kita meletakkan kekuatan kita pada sahabat-sahabat kita, apa agaknya akan berlaku jika kita tidak lagi bersama-sama sahabat kita? Apakah kita masih akan bertahan dan menjalankan amal dakwah dan menyebarkan risalah agung ini? Apakah kita masih mampu mengekalkan amalan-amalan Islami yang saban hari kita lakukan?

Maka, kekuatan kita perlu diletakkan pada Allah S.W.T. Allah yang menentukan segalanya. Dia yang memberi hidayah dan taufiq pada kita dan sahabat-sahabat kita. Kehadiran kita pada saat ini berada di bawah kekuasaan Allah semata-mata. Siapa kita untuk berserah kepada yang lain dariNya?

InsyaAllah, jika kita terus-menerus meletakkan Allah sebagai kekuatan utama, tak kira di mana kita berada, berseorangan atau beramai-ramai, di Malaysia atau di luar negara, kaya atau miskin, susah atau senang, sihat atau sakit; kita akan sentiasa mengingati amanah dan tanggungjawab kita sebagai Muslim sebenar.

Thus, in this very moment, truthfully and honestly,

Di mana Allah dalam kekuatan kamu?


Posted by: sayapikhwah | January 25, 2010

KITA SIHAT CARA RASULULLAH

Rasulullah s.a.w bersabda :
“Mu’min yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mu’min yang lemah ……”(HR Muslim)

Bagaimana agar sentiasa sihat seperti Rasulullah? Ikuti formula berikut :

SELALU BANGUN SEBELUM SUBUH


Rasul selalu mengajak ummatnya untuk bangun sebelum shubuh, melaksanakan sholat sunah dan solat Fardhu, sholat shubuh berjamaah. Hal ini memberi hikmah yg mendalam antara lain :
– Berlimpah pahala dari Allah
– Kesegaran udara subuh yang bagus utk kesehatan/ terapi penyakit TB
– Memperkuat pikiran dan menyehatkan perasaan


AKTIF MENJAGA KEBERSIHAN
Rasul selalu sentiasa rapi & bersih, tiap hari khamis atau Jumát baginda mencuci rambut2 halus di pipi, selalu memotong kuku, bersisir dan berminyak wangi.
“Mandi pada hari Jumát adalah wajib bagi setiap orang2 dewasa. Demikian pula menggosok gigi dan memakai harum-haruman”(HR Muslim)

TIDAK PERNAH BANYAK MAKAN
Sabda Rasul :
“Kami adalah sebuah kaum yang tidak makan sebelum lapar dan bila kami makan tidak terlalu banyak ( tidak sampai kekenyangan)”(Muttafaq Alaih)

Dalam tubuh manusia ada 3 ruang untuk 3 benda : Sepertiga untuk udara, sepertiga untuk air dan sepertiga lainnya untuk makanan. Bahkan ada satu tarbiyyah khusus bagi ummat Islam dengan adanya Puasa Ramadhan untuk menyeimbangkan kesihatan

GEMAR BERJALAN KAKI
Rasul selalu berjalan kaki ke Masjid, pasar, medan jihad, mengunjungi rumah sahabat, dan sebagainya. Dengan berjalan kaki, keringat akan mengalir, pori2 terbuka dan peredaran darah akan berjalan lancar. Ini penting untuk mencegah penyakit jantung

TIDAK PEMARAH
Nasihat Rasulullah : “Jangan Marah” diulangi sampai 3 kali. Ini menunujukkan hakikat kesehatan dan kekuatan Muslim bukanlah terletak pada jasadiyah belaka, tetapi lebih jauh yaitu dilandasi oleh kebersihan dan kesehatan jiwa.
Ada terapi yang tepat untuk menahan marah :
– Mengubah posisi ketika marah, bila berdiri maka duduk, dan bila duduk maka berbaring
– Membaca Ta ‘awwudz, karena marah itu dari Syaitan
– Segeralah berwudhu
– Solat 2 rakaat untuk meraih ketenangan dan menghilangkan kegundahan hati

OPTIMIS DAN TIDAK PUTUS ASA
Sikap optimis akan memberikan impak psikologi yang mendalam bagi kelapangan jiwa sehingga tetap sabar, istiqamah dan bekerja keras, serta tawakal kepada Allah SWT

TIDAK PERNAH IRI HATI
Untuk menjaga kestabilan hati & kesihatan jiwa, dan membersihkan pemikiran mazmumah maka hendaklah menjauhi sikap iri hati kerana merupakan tindakan preventif yang sangat tepat.

Posted by: sayapikhwah | January 25, 2010

BABAK 1;- Ciri2 orang munafik sejati

8 dec 2010

“Assalamualaikum Ustak Sayuti!”

“Hmm sape pnggil namo den n?” detik hatiku..setelah aku menoleh baru aku tahu siapa yang menyapaku..

“eh xyah r panggil ustz2 Piji, aku bkan ust pn, nk panggil ust haaa panggil Ust Sufkeri 2 hehe.” kataku,

“Hehe alaaaa samo r 2 demo 2 oghe..xdok ustak panggil r nta ustak hehe…” balas Hafizi..

“N,kawe nak tnyo skit n..”

“Tanyo gapo dio?” soalku..

Hafizi tersengih..

” n, nk tanyo..munafik 2 gapo dio ek??”

“Munafik? hmm 2 orang islam yang berpura-pura ,” kataku..

Dahi Hafizi berkeriut..

“Ahaa..teruskan..”

“hehe ye r…npe xfhm? hmm camne nk terang ek..hmm gelaran untuk org islam yang kufur yg menzahirkan iman die kepada umum” terangku..

“Owh yeke..hmm camne agaknye org munafik n ea? mksd kawe ciri die?” soal sahabatku ini ingin tahu dengan lebih lanjut..

“hmm ciri2 die?hmm orang2 munafik n ciri die byk..antatara nya..

1. Dusta

Hadith Rasulullah yang diriwayatkan Imam Ahmad Musnad dengan sanad Jayid: “Celaka baginya, celaka baginya, celaka baginya. Iaitu SESEORANG YANG BERDUSTA AGAR ORANG2 TERTAWA.”
Di dalam kitab Shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim), Rasulullah SAW bersabda: “Tanda orang munafik ada 3, salah satunya adalah jika berbicara dia dusta.”

2. Khianat

sabda Rasulullah SAW: “Dan apabila berjanji, dia berkhianat.” Barangsiapa memberikan janji kepada seseorang, atau kepada isterinya, anaknya, sahabatnya, atau kepada seseorang dengan mudah kemudian dia mengkhianati janji tersebut tanpa ada sebab uzur syar’i maka telah hinggap pada dirinya salah satu tanda kemunafikan.

3. Fujur dalam pertikaian

sabda Rasulullah SAW:
“Dan apabila bertengkar (bertikai), dia melampau”

4. Ingkar Janji

sabda Rasulullah SAW:
“Tanda orang munafik ada 3: jika berbicara dia dusta, jika berjanji dia ingkar, dan jika dipercaya (diberi amanat) dia berkhianat.” (HR. Bukhari Muslim)

5. Malas Beribadah

Firman Allah SWT:
“…Dan apabila mereka berdiri untuk solat, mereka BERDIRI DENGAN MALAS…”
(An-Nisa’: 142)
Jika orang munafik pergi ke masjid/surau, dia menyeret kakinya seakan-akan terbelenggu rantai. Oleh kerana itu, ketika sampai di dalam masjid/surau dia memilih duduk di shaf yang paling akhir. Dia tidak mengetahui apa yang dibaca imam dalam solat, apalagi untuk menyemak dan menghayatinya.

6. Riya’

Di hadapan manusia dia solat dengan khusyuk tetapi ketika seorang diri, dia mempercepatkan solatnya. apabila bersama orang lain dalam suatu majlis, dia tampak zuhud dan berakhlak baik, demikian juga pembicaraannya. Namun, jika dia seorang diri, dia akan MELANGGAR HAL-HAL YANG DIHARAMKAN Allah SWT.

7. Sedikit Berzikir

Firman Allah SWT:
“…Dan apabila mereka berdiri untuk bersolat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan solat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah SWT kecuali sedikit sekali.
(An-Nisa’: 142)

8. Mempercepat Solat

Mereka (orang2 munafik) adalah orang yang mempercepatkan solat tanpa ada rasa khusyuk sedikit pun. Tidak ada ketenangan dalam mengerjakannya, dan hanya sedikit mengingat Allah SWT di dalamnya. Fikiran dan hatinya tidak menyatu. Dia tidak menghadirkan keagungan, kehebatan, dan kebesaran Allah SWT dalam solatnya.
Hadith Nabi SAW:
“Itulah solat orang munafik…lalu mempercepat empat rakaat (solatnya)”

9. Mencela orang-orang yang Taat dan Soleh

Mereka memperlekehkan orang-orang yang Taat dengan ungkapan yang mengandung cemuhan dan celaan. Oleh kerananya, dalam setiap majlis pertemuan sering kali kita temui orang munafik yang hanya MEMBINCANGKAN SEPAK TERAJANG ORANG2 SOLEH dan orang2 yang konsisten terhadap Al-Quran dan As-Sunnah. Baginya seakan-akan tidak ada yang lebih penting dan menarik selain memperolok-olok orang2 yang Taat kepada Allah SWT

10. Memperolok-olok Al-Quran, As-Sunnah, dan Rasulullah SAW

Termasuk dalam kategori Istihzaa’ (berolok-olok) adalah memperolok-olok hal2 yang disunnah Rasulullah SAW dan amalan-amalan lainnya. Orang yang suka memperolok-olok dengan sengaja hal-hal seperti itu, JATUH KAFIR.
Firman Allah SWT:
“…Katakanlah: ‘Apakah dengan Allah SWT, Ayat-Ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak usah kamu minta maaf, kerana kamu kafir sesudah beriman…”
(At-Taubah: 65-66)

11. Bersumpah Palsu

Firman Allah SWT:
“Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai…”
(Al-Munafiqun: 2, Al-Mujadilah: 16)
Jika seseorang menanyakan kepada orang munafik tentang sesuatu, dia langsung bersumpah. Apa yang diucapkan orang munafik semata-mata untuk menutupi kedustaannya. Dia selalu mengumpat dan memfitnah orang lain. Maka jika seseorang itu menegurnya, dia segera mengelak dengan sumpahnya: “Demi Allah, sebenarnya kamu adalah orang yang paling aku sukai. Demi Allah, sesungguhnya kamu adalah sahabatku.

12. Enggan Berinfak

Orang2 munafik memang selalu menghindari hal2 yang menuntut pengorbanan, baik berupa harta maupun jiwa. Apabila menjumpai mereka berinfak, bersedekah, dan mendermakan hartanya, mereka lakukan kerana riya’ dan sum’ah. Mereka enggan bersedekah, kerana pada hakikatnya, mereka tidak menghendaki pengorbanan harta, apalagi jiwa.

13. Tidak menghiraukan nasib Kaum Muslimin

Mereka selalu menciptakan kelemahan2 dalam barisan muslimin. Inilah yang disebut At Takhdzil. iaitu, sikap meremehkan, menakut-nakuti, dan membiarkan kaum muslimin. Orang munafik berpendapat bahawa orang2 kafir lebih kuat daripada kaum muslimin.

14. Suka menyebarkan Khabar Dusta

Orang munafik senang memperbesar peristiwa/kejadian. Jika ada orang yang tergelincir lisannya secara tidak sengaja, maka datanglah si munafik dan memperbesarkannya dalam majlis2 pertemuan. “Apa kalian tidak mendengar apa yang telah dikatakan si fulan itu?” Lalu, dia pun menirukan kesalahan tersebut. Padahal, dia sendiri mengetahui bahawa orang itu mempunyai banyak kebaikan dan keutamaan, akan tetapi si munafik itu tidak akan mahu mengungkapkannya kepada masyarakat.

15. Mengingkari Takdir

Orang munafik selalu membantah dan tidak redha dengan takdir Allah SWT. Oleh kerananya, apabila ditimpa musibah, dia mengatakan: “Bagaimana ini. Seandainya saya berbuat begini, niscaya akan menjadi begini.” Dia pun selalu mengeluh kepada sesama manusia. Sungguh, dia telah MENGKUFURI DAN MENGINGKARI QADHA DAN TAKDIR.

16. Mencaci maki kehormatan orang-orang Soleh
Apabila orang munafik membelakangi orang2 soleh, dia akan mencaci maki, menjelek-jelekkan, mengumpat, dan menjatuhkan kehormatan mereka di majlis-majlis pertemuan.
Firman Allah SWT:
“…mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan…”
(Al-Ahzab: 19)

17. Sering meninggalkan Solat Berjamaah

Apabila seseorang itu segar, kuat, mempunyai waktu luang, dan tidak memiliki uzur say’i, namun tidak mahu mendatangi masjid/surau ketika mendengar panggilan azan, maka saksikanlah dia sebagai orang munafik.

18. Membuat kerosakan di Muka Bumi dengan Dalih Mengadakan Perbaikan

Firman Allah SWT:
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: janganlah kamu membuat kerosakan di muka bumi, mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan kebaikan.’ Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerosakan, tetapi mereka tidak sedar.”
(Al-Baqarah: 11-12)

19. Tidak ada kesesuaian antara Zahir dengan Batin

Secara Zahir mereka membenarkan bahawa Nabi Muhammad SAW adalah Rasul Allah, tetapi di dalam hati mereka, Allah telah mendustakan kesaksian mereka. Sesungguhnya, kesaksian yang tampak benar secara Zahir itulah yang menyebabkan MEREKA MASUK KE DALAM NERAKA. Penampilan zahirnya bagus dan mempersona, tetapi di dalam batinnya terselubung niat busuk dan menghancurkan. Di luar dia menampakkan kekhusyukan, sedangkan di dalam hatinya main-main.

20. Takut terhadap Kejadian Apa Pun

Orang2 munafik selalu diliputi rasa takut. Jiwanya selalu bergoncang, keinginannya hanya selalu mendambakan kehidupan yang tenang dan damai tanpa disibukkan oleh persoalan2 hidup apa pun. Dia selalu berharap: “Tinggalkan dan biarkanlah kami dengan keadaan kami ini, semoga Allah memberikan nikmat ini kepada kami. Kami tidak ingin keadaan kami berubah.” Padahal, keadaannya tidaklah lebih baik.

21. Beruzur dengan Dalih Dusta

Firman Allah SWT:
“Di antara mereka ada orang yang berkata: ‘Berilah saya izin (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah.’ Ketahuilah bahawa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya NERAKA JAHANNAM itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir.”
(At-Taubah: 49)

22. Menyuruh Kemungkaran dan Mencegah Kemakrufan

Mereka (orang munafik) menginginkan agar perbuatan keji tersiar di kalangan orang2 beriman. Mereka menggembar-gemburkan tentang kemerdekaan wanita, persamaan hak, penanggalan hijab/jilbab. Mereka juga berusaha memasyarakatkan nyanyian dan konsert, menyebarkan majalah2 porno (SEMIPORNO) dan narkotik.

23. Bakhil

Orang2 munafik sangat bakhil dalam masalah2 kebajikan. Mereka menggenggam tangan mereka dan tidak mahu bersedekah atau menginfakkan sebahagian harta mereka untuk kebaikan, padahal mereka orang yang mampu dan berkecukupan.

24. Lupa kepada Allah SWT

Segala sesuatu selalu mereka ingat, kecuali Allah SWT. Oleh sebab itu, mereka sentiasa ingat kepada keluarganya, anak-anaknya, nyanyian2, berbagai keinginan, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan duniawi. Dalam fikiran dan batin mereka tidak pernah terlintas untuk MENGINGAT (ZIKIR) ALLAH SWT, KECUALI SEBAGAI TIPUAN SEMATA-MATA.

25. Mendustakan janji Allah SWT dan Rasul-Nya

Firman Allah SWT:
“Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: ‘Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami selain tipu daya.”
(Al-Ahzab: 12)

26. Lebih memperhatikan Zahir, mengabaikan Batin

Orang munafik lebih mementingkan zahir dengan mengabaikan yang batin, tidak menegakkan solat, tidak merasa diawasi Allah SWT, dan tidak mengenal zikir… Pada zahirnya, pakaian mereka demikian bagus menarik, tetapi batin mereka kosong, rosak dan lain2.

27. Sombong dalam Berbicara

Orang2 munafik selalu sombong dan angkuh dalam berbicara. Mereka banyak cakap dan suka memfasih-fasihkan ucapan. Setiap kali berbicara, mereka akan selalu mengawalinya dengan bila UNGKAPAN MENAKJUBKAN YANG MEYAKINKAN AGAR TAMPAK SEPERTI ORANG HEBAT, MULIA, BERWAWASAN LUAS, MENGERTI, BERAKAL, DAN BERPENDIDIKAN. Padahal, pada hakikatnya dia tidak memiliki kemampuan apa pun. Sama sekali tidak memiliki ilmu bahkan lagi terserlah kemunafikannnya.

28. Tidak memahami Ad Din

Di antara “KEISTIMEWAAN” orang2 munafik adalah: mereka sama sekali tidak memahami masalah-masalah agama. Dia tahu bagaimana mengenderai kereta dan mengerti perihal mesinnya. Dia juga mengetahui hal2 remeh-temeh dan pengetahuan-pengetahuan yang tidak pernah memberi manfaat kepadanya meski juga tidak mendatangkan mudharat baginya. Akan tetapi, apabila menghadapi untuk berdialog (bertanya tentang persoalan2 Ad Din (Islam)), dia sama sekali tidak boleh menjawab.

29. Bersembunyi dari manusia dan menentang Allah dengan Dosa

Orang munafik menganggap ringan perkara2 terhadap Allah SWT, menentang-Nya dengan melakukan berbagai kemungkaran dan kemaksiatan secara sembunyi-sembunyi. Akan tetapi, ketika dia berada di tengah-tengah manusia dia menunjukkan sebaliknya: berpura-pura taat
Firman Allah SWT:
“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahsia yang Allah tidak redhai…”
(An-Nisa’: 108)

30. Senang dengan Musibah yang menimpa orang-orang Beriman dan Dengki terhadap Kebahagian mereka

Orang munafik apabila mendengar berita bahawa seorang ulama yang soleh tertimpa suatu musibah, dia pun menyebarluaskan berita duka itu kepada masyarakat sambil menampakkan kesedihannya dan berkata: “Hanya Allahlah tempat memohon pertolongan. Kami telah mendengar bahawa si fulan telah tertimpa musibah begini dan begitu… semoga Allah memberi kesabaran kepada kami dan beliau.” Padahal, di dalam hatinya dia merasa senang dan bangga akan musibah itu.

“Haaa ok..da tau da?,pahe dok?” usik ku sambil mencuit bahu sahabatku itu…

“Gulp…”HAfizi menelan air liur nya..

“Lor…nape?”soal ku..

“dok r..tkot r kalo kawe tergolong dari owg munafik 2,jahat an? ape lak hukuman yg owg munafik n akan dapat kat akhirat nnt?”

“hmmm org munafik akan dibakar di neraka di tingkat yang paling bawah sekali” kataku..

“Nauzubillah!hmm skarang bru kawe tau..jadi pasni nk istiqamah r dengan usrah, tkot jd owg munafik..” kata Hafizi

” HAaaa bgus r…Rabu n jgn lpe kat Masjid Gelige..hehe..”Pancingku..

“Begheh Boh!” Syukran boh!dpat ilmu skit arini hehe”

Categories